Bisikan Pagi yang Menggoda
Ibu Sari, pembantu Radit, menggoda majikannya dengan gestur dan sentuhan yang penuh makna, menciptakan ketegangan seksual yang belum terpuaskan.
Ibu Sari menepuk-nepuk debu di pangkuan dengan irama malas, lalu melipat kain pel lusuh di atas papan serut yang baru dibersihkannya. Di balik jendela pantura rumah kontrakan milik Radit, cahaya pagi menyelinap lembut, menyorot gelombang rambut cokelatnya yang tergerai di punggung—setelahnya diikat longgar supaya tak mengganggu. Ia tahu jam delapan lewat seperempat Radit biasanya turun untuk sarapan sebelum berangkat ke kantor cabang bank di pusat kota.
Di bawah meja makan, lututnya sedikit terbuka; ia menyesuaikan posisi duduknya agar rok rumah yang diperpendek dua jari di atas lutut itu naik sedikit, memperlihatkan lekuk paha yang kencang—paha yang belum juga ia turunkan dalam lakon duka janda sejak tiga tahun lalu. Ia menahan napas, merasakan pohon dadap di halaman samping menghantam daun di angin, dan detik kemudian terdengar suara sandal jepit yang meredup di tangga.
Radit muncul dengan kemeja putih setengah lengan yang belum disetrika penuh—kupunya masih sedikit kusut. Kacamata minusnya berbinar karena sorot lampu dapur yang baru diganti neonnya. Ia melirik ke arah dapur yang sudah wangi kopi tubruk, lalu matanya terhenti di tubuh bulan sabit komoh Ibu Sari.
“Pagi, Mbak.” Radit menyingkap gelang jam tangan kulitnya, seolah cekatan, tapi matanya tidak berkedip menatap ujung rok pembantu itu. “Udah masak?”
“Pagi, Mas. Semur tahu dan nasi hangat, tinggal ambil,” sahut Sari sambil membungkuk, kedua lengannya sengaja bersinggungan pangkuan Radit ketika ia meletakkan mangkuk kecil cabai rawit di atas meja. Tangan mungil itu menyentuh sekejap jari Radit. Gadis itu tahu detik itu, milimeter itu, membuat napas majikannya berderap.
Radit beringsut di kursi, mengangkat sendok, menunduk—berusaha fokus pada makanan, tapi Sari tak memberi ruang. Ia menggeser di samping, membuka kran air dengan leher sedikit merenggang, sehingga lekuk belahan dada terlihat di balik kancing rendah blus tipisnya. Detik kemudian ia berbalik, sehelai rambut lurus jatuh di pipi, ia tiup selembut angin lembah, menatap Radit dengan sorot mata basah yang memohon—atau malah menantang—disambut.
“Mas mau dibikinkan kopi susu? Bikinin yang kemarin-kemarin aja, yang dikit-dikit santannya,” tanyanya pelan, lidah membasahi bibir bawah, lalu menggigit tipis.
“Boleh.” Radit tak mampu membalas lebih, suaranya serak, seperti terperangkap pasir di tenggorokan.
Sari berlalu mendekati kompor. Pinggulnya melenggok tenang, menjaga agar kain rok memperlihatkan goyangan natural—ia tahu Radit menatap dari balik garis punggung. Ia sengaja menyimpan lelehan sabun cuci piring di tangan kirinya, lalu memercikkan sedikit buih ke tapal kaki, berpura-pura menjemur kakinya di uap air mendidih. “Aduh, panas,” desisnya, menekuk kaki, mengangkat betis, lalu menyeka dengan ujung kain di sekitar lutut—mengundang, memperpanjang tatapan lelaki yang kini terbelalak di belakangnya.
Radit menelan nasi setengah matang; ia tersadar kedua tangan gemetar. Ia tak ingin terlihat cupet, atau—Tuhan, bodoh—menjolok arus listik rumah tangga. Tapi ia juga manusia. Gumpalan darah di selangkangan mengalir deras, menekan jins biru tua yang dipakainya. Ia menundukkan wajah, memejamkan mata, baru kembali menatap piring.
Kopi susu disajikan dalam cangkir tembikar, di atas baki kayu anyaman. Saat Sari menundukkan bahu, gundukan dadanya terlihat jelas, di bagian atas bra putih tipis. Radit mencium bercampur wangi kopi dan sabun mandi melati yang selalu ia sediakan gaji bulanan untuk Sari.
“Mas, kopi dingin nggak enak,” bisik Sari, beringsut lebih dekat, memperpendek jarak dada mereka hanya dua jari. Ia merogoh tangan ke bawah meja, menyeka betis Radit, berpura-pura menghapus tetes air. “Nanti kena kaki, Mas, nanti licin.”
Radit mengerang pelan, menghindar; tersandung ujung sepatunya sendiri. Ia berdiripun; Sari memegangi lengannya, menstabilkan, payudaranya menekan lengan lelaki itu selentingan—empuk, hangat.
“Maaf, Mas, aku yang ceroboh,” ucapnya, tidak juga beringsut. Tangannya terlelap di pergelangan Radit, ibu jari membelai urat.
Radit menarik napas panjang, berusaha menimpali dengan humor, tapi tenggorokan terasa rapuh. “Nggak papa, kok. Kamu tahu aku memang kudu cepet berangkat.”
“Mas cemas ya,” ejek Sari, menundukkan senyum manis. “Udah besar, tapi takut sama pembantu sendiri?”
Radit terbata, telapak tangan berkeringat. Ia sadar detik itu, ia sebenarnya hanya ingin melarikan diri—atau malah mendorong lebih dekat. Sari masih menggenggam, menggerakkan kuku-kuku kecilnya di kulitnya, menulis takdir diam-diam.
Akhirnya Radit menarik lengannya lembut, mengambil tas selempang kulit di atas sofa. “Aku cabut dulu, Mbak. Besok pagi juga ada rapat.”
Sari melangkah memblokir di dengan satu sikap anggun: mencondongkan pinggang ke meja, lengan di belakang memperlihatkan lekuk dada melebihi yang biasanya. “Mas belum bawa amplop tabungan, tadi aku letakin di atas lemari es.”
Radit teringat memo itu—dan mengangguk. Ia menyelinap ke pintu dapur, menengadah. Sari mengikut di belakang, sengaja mematahkan jarak sedekat mungkin. Ketika Radit merebahkan tangan ke atas kulkas, Sari membubuhkan lengan di pinggangnya—pura-pura menahan agar ia tidak terjungkal.
“Aku yang ambil, Mas,” desisnya dekat telinga. Napasnya hangat menyapu udel telinga, sementara pelvisnya menyandarkan ke bokong lelaki itu. Radit memejamkan mata, merasakan gumpalan bukit ranum menekan pinggulnya—kencang, liar.
Detik berdetik, lampu dapur berkedip pelan, seolah berdeham. Radit menahan napas, diputar badannya perlahan oleh Sari, kini wajah mereka berjarak hanya satu inci mikon. Sari tersenyum miring, memperlihatkan lesung pipit kecil. “Mas, sesekali jangan keras slotkepala. Biar wanita yang urus.”
Kedua tangannya merangkul bahu Radit, menekuk lembut, tidak menuntut, tapi merangkul. Radit merasa tekanan di dadanya mendidih, tapi ia menekan keinginan; nafsunya seperti kelereng di atas rel kereta. Sari, mengetahui itu, menggeliatkan panggung terakhir: ia mengangkat muka, mengecup ujung kening Radit, lalu menjatuhkan bibir ke sudut mulut, sentuhan tipis, basah, seolah isyaratnya adalah “Boleh, kamu bisa, tapi di lain waktu.”
Radit menelan ludah, tubuhnya bergetar. Tangannya menyingkir, tapi Sari hanya melangkah mundur selangkah, melipat tangan di bawah payudara, seraya memberi ruang hawa, tapi tak melepas grafar gairah yang tersisa.
“Semoga harimu menyenangkan, Mas,” kata Sari akhirnya, lidah menjilat bibirnya sendiri, “Kalau malam kamu butuh teh jahe atau lainnya, aku di sini.” Ia menoleh, menekuk pinggang, menyingkap habuk-habuk tak kasatmata dari jins Radit, lalu meluncur pergi membiarkan napas panjang majikannya berat dan dagu terkatung.
Radit buru-buru memakai sepatu; di ambang pintu, ia menoleh pelan. Sari sudah berdiri di balik daun pintu, tersenyum menantang; bersinar di matanya—gelap, dalam—tapi katup mulutnya tetap menggoda, menggoyang tangan seperti yang diutus sang bidadari bertanduk. Radit menunduk, membuka payung, menyusup ke jalan berlumpur kecil menuju jalan utama—berbisik kepada dirinya sendiri, juga pada tubuh yang mengejang keras: “Besok pasti kembali.”
Comments
Post a Comment